Reog Ponorogo Kebanggaan Jawa Timur

Tari Reog adalah kesenian dari Ponorogo – Jawa Timur, terbukti adanya gerbang kota Ponorogo dihiasi dengan Warok dan Gemblak yang merupakan dua sosok bagian dari kesenian Reog. Berawal dari Ki Ageng Kutu yang merupakan seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabumi di abad ke-15. Pada saat itu Ki Ageng Kutu murka terhadap sang raja yang korup karena pengaruh dari istri raja, kemudian ia meninggalkan kerajaan dan mendirikan perguruan bela diri untuk melakukan pemberontakan.

Karena pengikutnya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan, maka Ki Ageng Kutu membuat pertunjukan seni Reog yang merupakan sindiran terhadap kerajaan.

Dalam kesenian Tari Reog Ponorogo, Kertabumi dilambangkan dengan singa Barong. Sementara di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak seperti kipas, merupakan simbol atas pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur segala gerak-gerik raja. Sedangkan kekuatan pasukan kerajaan Majapahit dilambangkan dengan Jatilan yang merupakan prajurit berkuda.

Jatilan – Sumber gambar wikipedia

Ki Ageng Putu sendiri berada di balik topeng badut merah dan menopang topeng singabarong yang mencapai berat lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.

 

Ada 3 tarian dalam pentas Seni Reog Ponorogo, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Tarian Pembuka
Dibawakan oleh 8 pria yang menggunakan pakaian serba hitam dengan wajah yang dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.

Warok – Sumber gambar Wikipedia

2. Tarian Inti
Usai tarian pembuka dilaksanakan, akan ditampilkan tarian inti. Pada tarian inti tersebut mempunyai isi yang berbeda tergantung dari pada hajatan apa Seni Reog Ponorogo tampil. Misalnya acara digelar pada saat resepsi pernikahan, maka akan ditampilkan tarian dengan adegan percintaan. Sedangkan saat acara hajatan khitan, isi tarian inti bercerita tentang seorang pendekar.

3. Tarian Penutup

Singa Barong akan muncul pada adegan terakhir dalam setiap pertunjukan Seni Reog Ponorogo. Dimana penari memakai topeng dengan bentuk kepala singa, beratnya bisa mencapai 50 hingga 60kg. Ediaaan. Lebih gila lagi, topeng kepala singa seberat itu dibawa oleh penari hanya dengan menggunakan gigi. Konon, kekuatan yang didapatnya diperoleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Dulu santer terdengar kalau Malaysia mengklaim Seni Reog Ponorogo sebagai warisan budayanya, kontan membuat warga Indonesia marah. Namun, Seni Reog yang disebut Malaysia dengan Tari Barongan tersebut memang dapat ditemukan di Johor dan Selangor dibawakan oleh orang Jawa yang merantau ke negeri Malaysia.
Jadi, cintai dan lestarikan budaya kita sebelum dicintai dan diklaim oleh negara lain. Rasanya pasti kayak ditinggal pacar nikah, nyesek #Eh.

Nah, itulah sekilas tentang Seni Reog Ponorogo yang sangat membanggakan bangsa Indonesia, khususnya warga Jawa Timur.

Follow My Social Media

17 Comments

  1. hani

    Oooh sejarahnya ada ya kenapa Malaysia ujug² mengaku tarian yg mirip Reog Ponorogo juga ada di sana. Karena warga Indonesia yg merantau. Akulturasi budaya sebenarnya yah…
    Saya mah melongo kalau lihat topeng kepala singa itu. Dan penarinya tampak gagah…

    Reply
    1. Wiwid Vidiannarti (Post author)

      Iya, mbak. Mungkin mereka yang merantau melakukan pertunjukkan untuk kerja alias mencari penghasilan disana.
      Gagah lan perkoso, yo, mbak? hihihi

      Reply
  2. Dina

    Tari tradisional kekayaan budaya kita, jelas-jelas ada sejarahnya kenapa juga itu negara tetangga ngaku-ngaku. Ketauan ga kaya sama budaya sendiri, hayu lestarikan budaya bangsa kita

    Reply
  3. Nyknote

    Reog Ponorogo warisan budaya nusantara yang amazing. Menganfjat topeng seberat 50 kg hny denfan gigi saja. Hmmm kerennnnn…

    Reply
  4. Emmy Herlina

    Wah aku baru tahu Sejarah nya nih. Tapi memang udah lama denger reog ponorogo. Budaya Indonesia memang Kaya dan patut dilestarikan ya.

    Reply
  5. Dwi Arumantikawati

    Aku pernah lihat langsung tarian reog ini, amazing deh nyaksiinnya. Ngeri2 sedap liat yg duduk di atas kepalanya itu ngeri jatoh euy.

    Reply
  6. Dian Restu Agustina

    Saya belum pernah nonton reognya secara langsung Mbak..
    Tapi super kagum dengan segala atraksinya yang juwaraaa..
    termasuk topeng kepala singa dibawa oleh penari hanya dengan menggunakan gigi.hebat ya,,
    Kesenian tradisional Indonesia memang membanggakan:)

    Reply
  7. Melina Sekarsari

    Ediaaan, Mbak Wiwid. Nasionalis sejati. Kemarin ceritakan Aceh, Bali, sekarang reog Ponorogo. Lanjutkan. Bisa-bisa aku nggak jadi keliling nusantara nih, cukup baca tulisanmu aja hahaha …

    Reply
    1. Wiwid Vidiannarti (Post author)

      Ngawur ae … malah biar bikin makin kepo kok, trus semangat keliling travelling gitu hihihi

      Reply
  8. Bunda Erysha (yenisovia.com)

    Indonesia itu beneran keren ya. Banyak tariannya seperti tarian reog ini contohnya dan budayanya masih terjaga walau mulai memudar dengan seiiring perkembangan zaman

    Reply
    1. Wiwid Vidiannarti (Post author)

      Takdir Indonesia emang jadi negara keren, Bund.

      Reply
  9. steffifauziah

    Wih seruuuu banget mba, jadi pengen liat sesekali acara Reog ini, belum pernah seumur umur soalnya wkwk. Norak banget saya. Makasih mba sharingnya

    Reply
  10. liesdiana yudiawati

    Budaya bgs hrs sering ditampilkan agar generasi muda tahu dan menghargai budaya bgsnya. Dan tidak diambil oleh bgs lain

    Reply
  11. Bety Kristianto

    Duh si Ipin Upin emang rajin ya ngeklaim punya tetangga. Heeeeh jd kesel. Hihi #simbokgalfok. Btw ulasan yang keren mba!

    Reply
  12. Srie Ningsih

    Kayanya budaya negara kita..saya suka bingung liat reog ini, betapa kuatnya yg memainkannya..padahal berat sekali topengnya

    Reply
  13. meirida

    Waktu pertama kali nonton reog ini, aku kaget mbak. Krn suaranya yg lumayan kenceng waktu itu. Tp lama2 diliatin jadinya asyik juga. Meski g ngerti bahasanya, aku ttp suka pertunjukan budaya tradisonal ini.

    Reply
  14. Anggraeni Septi

    Jika ada sebuah perayaan seni, pasti pakai reog Ponorogo mba. Dan Luigi aku ajak liat sambil ngenalin kesenian budaya 🙂

    Reply

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.